Selasa, 03 Mei 2011

Segar dan Keringat: Pocari Sweat yang Mendunia

Kemarin adik saya kebetulan bercerita tentang sejarah sebuah produk "pelopor minuman ion", Pocari Sweat. Saya sangat terkesan dengan cerita adik saya itu sehingga saya mencoba mencari videonya di youtube





Setelah melihatnya, saya semakin terkesan dengan sejarah panjang produk ini. Dari cerita tersebut kita bisa tahu bahwa produk ini tidak serta merta mendulang sukses seperti yang kita lihat sekarang, namun harus susah payah ber"keringat" (Sweat) terlebih dahulu sebelum mereguk ke"segar"an (Pocari).

Sebagai seorang mahasiswa farmasi, saya juga belajar tentang formulasi produk terutama sediaan obat. Melihat video ini dari sudut pandang farmasi benar-benar menarik. Saya menjadi paham tentang konsep akseptabilitas (rasa nyaman yang diterima konsumen pada penggunaan produk) tanpa meninggalkan tujuan awal dan mengurangi manfaat produk tersebut. Saya teringat kata-kata yang berulangkali diucapkan oleh Harima, sang ahli rasa:"Yang akan kita buat adalah minuman kesehatan."

Saya juga belajar dari ketekunan Takaichi, si peneliti muda, dalam pengembangan produk meski butuh waktu bertahun-tahun dan memakan jatah hari libur segala. Hasil kerjanya berulangkali "ditolak"--hingga 1000 macam optimasi--tetapi ia tidak putus asa hingga berhasil menemukan formula terbaik *tipikal seorang formulator*

Hal lain yang menginspirasi dari kisah ini adalah tentang keberanian untuk berpikir kreatif meski harus keluar dari pendapat umum. Perusahaan Otsuka Pharmaceutical kala itu bukan sekedar mengembangkan pasar, namun membuat pasar baru yang belum pernah ada sebelumnya. Pada awalnya tentu akan banyak penolakan, namun karena keyakinan Presdir Otsuka bahwa jika mereka menabur benih saat ini, buahnya akan bisa dirasakan di kemudian hari. kita bisa lihat sendiri buktinya sekarang.

Saya jadi teringat pengalaman saya dan kawan-kawan tim nutraceutical(makanan dan minuman sehat) ketika usulan produk kami ditolak berkali-kali oleh dosen pembimbing. Yang diharapkan ibu dosen tersebut persis seperti Pak Harima: manfaat dan rasanya sekaligus.*jadi tidak sebel lagi setelah tahu :p*

Keep Kaizen and Ganbaru! sekarang saya mau "go ion" dulu ahhh :D

o y, saya tidak dibayar oleh perusahaan Otsuka lho. tulisan ini murni saya buat karena terinspirasi sejarah sukses produk ini.

Selasa, 26 April 2011

Teruslah berubah...

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka akan mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri,"
-QS Ar-Ra’d : 11-

Sahabat, ketika kita terjebak dalam rutinitas harian yang terus berulang, kita lupa bahwa hidup ini dinamis. Apa yang kita kerjakan hari ini hanyalah perulangan dari apa yang kita lakukan kemarin, dan begitulah seterusnya. jika kita tengok ke belakang, adakah peningkatan pada kualitas diri kita? atau jika itu terlalu sulit, apakah ada peningkatan dari apa yang kita kerjakan? Mungkin tidak. Karena kita bagaikan mesin yang terprogram melakukan hal yang sama berulangkali.

Sebenarnya kita sadar bahwa hidup seperti itu sungguh menyakitkan karena kita akan merasa sangat tertekan.

Dunia ini terus berubah! Jika kita tetap "begini-begini" saja, maka kita akan tertinggal perputarannya.

Ini bukan berarti meninggalkan pekerjaan kita namun sebuah usaha menjadikan rutinitas itu menjadi lebih bermakna.

"Sedikit perubahan kecil yang berlangsung terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan".
tampak sederhana bukan? bukan sebuah langkah besar, hanya satu langkah kecil tiap hari yang membuat kita terus maju. Inilah KAIZEN, Prinsip yang sukses membawa Jepang, negeri yang luluh-lantak akibat bom atom Hiroshima-Nagasaki pada Perang Dunia II, menjadi salah satu negara termaju di dunia. Mungkin saja prinsip ini yang akan kembali "menyelamatkan" Jepang dari dampak bencana tsunami dan ancaman nuklir baru-baru ini. Sebab usaha untuk berubah dan kemajuan adalah sebuah sunnatullah.

Lantas bagaimana dengan negeri kita?

Stop Cursing the Dark!


semakin lama waktu yang kita habiskan untuk merutuki pemerintah dan para penguasa, semakin habis pula waktu kita untuk meningkatkan kualitas diri dan pekerjaan yang kita lakukan.

So, Mari kita bersama-sama belajar untuk terus berubah. Satu langkah kecil saja, setiap hari. (rad)

Sabtu, 23 April 2011

Joko, si Kelinci Korban Anestesi


Pernah dengar tentang anestesi umum alias pembiusan?

Ini nih tanda-tanda orang yang kena anestesi umum: tidak sadar, tidak merasa sakit, amnesia *pantesan pas sadar gak inget apa2*, hilangnya refleks-refleks.
Orang yang terkena anestesi umum tidak tiba-tiba hilang kesadaran, tapi ada tahap-tahap hingga muncul tanda-tanda seperti yang saya sebutkan tadi, bahkan kalo kebablasan bisa terjadi depresi pernafasan dan kardiovaskuler hingga terjadi sindrom IWR alias Innalillahi wa inna ilaihi roji’un *hiiiiii.... serem...*

tahap-tahap itu disebut dengan stadium anestesia:
Stadium pertama disebut stadium analgesia. Jika dilihat dari namanya, berarti si pasien akan mengalami kehilangan rasa sakit/nyeri, kadang-kadang mulai timbul amnesia. Kesadaran mulai turun tapi tidak hilang.
Stadium kedua nama lainnya adalah stadium disinhibisi atau eksitasi. Disini pasien justru merasakan penderitaan, tandanya antara lain: Pasien mengigau, nafas tidak teratur, refleks meningkat, kadang-kadang bisa muntah-muntah segala. Kata dokter, Stadium ini harus segera diakhiri karena kasihan sama pasien.
Stadium ketiga alias stadium pembedahan. Nah, disinilah tanda-tanda yang saya sebutkan di awal tadi bermunculan sehingga dokter bedah bisa mulai beraksi dengan kelincahan jari-jarinya mereparasi organ-organ yang agak tidak beres . Saya jadi ingat duet jenius Asada Ryutaro si dokter bedah jantung dengan dokter anestesinya, Arase, di serial drama Jepang yang sangat populer Iryu: Team Medical Dragon. Di serial itu, Arase harus memantau tanda-tanda vital pasien lewat ECG dan alat-alat lain yang menempel di tubuh pasien. Dokter anestesi ini harus mempertahankan pasien pada stadium pembedahan dengan pemberian obat-obatan anestesi, jangan sampai pasien terbangun dan jangan sampe ‘bablas’.
Stadium keempat adalah stadium depresi nafas dan kardiovaskular. Inilah batas akhir antara hidup dan mati si pasien. Kalo sampai dokter anestesi salah memperkirakan dosis, bisa-bisa pasien wafat di meja operasi...*baru tahu, ternyata gedhe banget tanggungjawab seorang ahli anestesi*

Meskipun secara teori kelihatannya mudah mengamati tanda-tanda orang yang kena anestesi, ternyata pada praktiknya susah juga lho. Nah, beberapa saat lalu saya dan teman-teman mendapat kesempatan untuk mempraktikkan anestesi pada seekor kelinci percobaan *dalam arti sebenarnya*. Oleh salah seorang temanku, kelinci itu diberi nama Joko—belakangan baru diketahui bahwa ternyata Joko adalah seekor kelinci betina =D. Dalam praktikum ini kami dilengkapi alat-alat sederhana untuk mengamati tanda-tanda vital Joko, misal: kapas untuk mengamati refleks kedip, senter untuk mengamati refleks pupil, serta sebuah stetoskop untuk memantau irama jantung dan pernapasan. Obat anestesi yang digunakan adalah eter yang diteteskan pada mouthcap di moncong Joko, si kelinci yang malang. Sepanjang praktikum kami sangat serius mengamati Joko, pasalnya kami takut masuk neraka gara-gara menyiksa dan membunuh hewan. Alhamdulillah... pada akhirnya Joko selamat karena kami menghentikan anestesi setelah masuk stadium pembedahan. Kami juga sempat memperhatikannya perlahan-lahan pulih dari kelumpuhan otot akibat anestesi itu. Kasihan sekali, untuk berdiri saja harus dengan susah payah.
Otsukaresama, Joko! Semoga amal kebaikanmu dalam membantu kami belajar mendapat balasan Allah SWT (rad).

Jumat, 22 April 2011

Let's Open The Door!



Suatu sore yang mendung kelabu, ketika tetes air bakal tertumpah dengan lebatnya, seorang mahasiswa, sebut aja si Rad, buru-buru berlari ke arah rumah kosnya yang takjauh dari kampus karena dia takut kehujanan. Maklum, tas kuliah si mahasiswa itu cuma seukuran kertas HVS A4 dengan tebal 5 cm, jadi gak muat buat mbawa payung. Sesampai di kamar kos, Rad yang BeTe banget lantaran rencana pulang kampung minggu ini bakal tertunda lagi akibat gunungan tugas yang harus didaki, mencoba melarikan diri dari kenyataan dengan merebahkan tubuhnya di kasur. Badan memang pegel-pegel tapi mata tak mau terpejam sebab pikiran masih menggelandang. Akhirnya dengan males-malesan si Rad menyalakan ‘sohib’-nya, lepi imut hitam manis yang dipanggil Kuropi.
Dasar lagi tidak mood, maka otak pun enggak mau diajak kerjasama... makin BeTe deh jadinya... Untungnya Rad sadar bahwa kalau begini terus yang ia dapatkan hanya kelelahan jiwa, raga, dan harta. Maka yang pertama ia lakukan adalah mengembalikan mood baik dengan mengumpulkan energi positif sebanyak-banyaknya. So, dia melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Bersih diri, mandi-mandi dan siap-siap shalat maghrib.
2. Pergi ke masjid deket kos. Biar shalatnya tenang, enggak tambah stress.
3. Habis shalat, ngaji dulu deh biar cuma beberapa ayat..
4. Nah, kan udah mulai adem tentrem tuh... sekarang tinggal nambah semangat dikit deh.

Di depan Kuropi, Rad mulai memilih-milih soundtrack yang bisa bikin melek garap tugas +nambah semangat. Untuk diketahui, Di HDDnya Kuropi, Anda pasti akan menemui kesulitan untuk menemukan tembang Indonesia paling anyar ato Lagu-lagu penyanyi bule yang ternama. Yang akan Anda temukan adalah deretan soundtrack Anime dan barisan nama-nama penyanyi Jepang seperti Seamo, GreeeeN, Yui, dan Utada Hikaru. Akhirnya malam itu Rad memilih ditemani kuartet J-Hip-Hop, GreeeeeN yang irama musiknya selalu upbeat plus lirik lagunya penuh dengan kata-kata positif. Nih, saya cantumin salah satu lagu dari GreeeeN favoritnya Rad:

TOBIRA - GreeeeN
hora , kao age sukoshi waratte
sorya iroiro aruyo wakarutte
omoi doori no story towa ikanai keredo

dare shimo ashita wa kurutte !
matte kurenai toki wa sugi satte
anata ni ima mieru mirai kara me sorasazuni

imi no nai koto wa nani hitotsu naitte kiga sunda
omoikiri yari nui tara kimochi harebare !
furikaere ba hora mierudarou ? ayunda michinori
osore zuni tsugino ippo hora fumidase !!!

(Refrain1) kimi ga hiraku so menomae ni asu no jibun wa mieteimasuka ??
atarashii tobira no sono saki ni kitto deaeru
( tsugino jibun ) ni (Refrain1)

hora ? doushita ? kurai kao tsurai kamoshirenaiga saa warao u !
damatte mo sugi teku hibi nara asate , ashita , kyou , imi ga aru
mayotte bakka ikkoku ikkoku to KARENDA^ no hiduke kotsukotsu to
matte kureruwake nante nainda jaa ima sokkou de soku koudou !!!

imi ga nai to tada kimetsukete tobira shimeterunda
mienai you kikoenai youni shiterudake
ashita nani ga dekiru kanante kimi ga kimerudake
osore zuni tsugino ippo hora fumidase !!!

(Refrain2) kimi no tobira wo akeru kagi wa itsumo kimi no poketto no naka
ima hirake ba hora me no mae ni kitto matteru
( tsugino jibun ) ga (Refrain2)

tachi tomatte ugokenainara
boku ga sotto kimi no senaka osu yo
sono ippo de mae ni deta nara
ato wa hitori de susumeru hazusa

itsuka kitto anata no ( yume ) ga ( omoi ) ga todokunda !!!
omoikiri yari nui tara kimochi x 100!!!
soremo zenbu wakatterundarou ?
tobira hiraku niwa sono omoi zenbu kakae hora fumidase !!!

( (Refrain1) Repeat )
( (Refrain2) Repeat )

Translation:
Hey, lift your chin up and smile a little
I know you’ve been through a lot
And the story’s not going the way you thought it would

But tomorrow comes for everyone!
Time passes by and won’t wait for you
Don’t look away from the future you can see now

You’ll feel better once you realize nothing is pointless
Once you’ve given it your all you’ll feel refreshed
If you turn around, hey, do you see it? Look how far you’ve come
Don’t be afraid, take the next step forward!!!

*As you open what’s in front of you
Can you see what you’ll be like tomorrow??
You’ll surely find a new door ahead of you
That leads to “the new you”

Hey, why the gloomy face? I know it’s hard but let’s laugh together!
Even if you stay silent, each passing day, tomorrow, today, all have meaning
You just worry each and every second, marking off the calendar diligently
But nothing will ever wait for us so let’s take immediate action now!!!

If you just decide that it’s meaningless, you’re closing the door
Pretending you can’t see, pretending you can’t hear
All you have to do is decide what you can accomplish tomorrow
Don’t be afraid, take the next step forward!!!

**The key that opens your door has always been in your pocket
Look, if you open it now, I know that person will be right before your eyes
“The new you” is waiting for you

If you’re standing still and can’t seem to budge
I’ll softly give you a push you forward
If you can just take one step
Then I know you can make it on your own

Your “dream” and “emotions” will make it there someday!!!
Once you’ve given it your all you’ll feel great x 100!!!
But you know all that already, don’t you?
Embrace all your emotions so you can open the door, now step forward!!!

(Repeat*)
(Repeat**)

PVnya ada disini:
http://www.jpopasia.com/play/13482/greeeen/tobira.html

Hmmm...
Time passes by and won’t wait for me. It’s the time to decide: Take one step forward, open the door or Stop here, do nothing...


Otsukaresama! Ganbatte minna!

Rabu, 16 Maret 2011

(Semoga) Kampus Kebanggaanku Tetap Pro-Rakyat


Sudah dua setengah tahun saya menjalani kehidupan kuliah yang penuh warna di kampus ini. Saya masih ingat wajah bahagia Bapak saat melihat pengumuman yang menyatakan bahwa saya diterima di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga lewat jalur PMDK Prestasi. Tak henti-hentinya ucapan syukur terlontar dari bibirnya dan itu terus berlanjut hingga saat ini. Selama dua setengah tahun itu pula saya beserta orangtua selalu bertutur kepada orang-orang di sekitar kami bahwa kampus ini adalah kampus yang peduli terhadap pendidikan berkualitas untuk rakyat kecil.

Ketika itu kawan-kawan saya yang diterima di universitas lain banyak mengeluhkan mahalnya biaya masuk serta biaya pendidikan tiap semester. Saya hanya tersenyum sambil menceritakan betapa murahnya biaya pendidikan di Unair. Bayangkan saja, ketika salah seorang kawan saya harus membayar puluhan juta di awal untuk bisa masuk ke sebuah fakultas kedokteran suatu universitas negeri (padahal ia diterima lewat jalur SNMPTN), saya hanya perlu membayar IKOMA sebesar lima juta dan dapat diangsur hingga lima kali selama satu tahun. Dalam hati, saya amat bersyukur karena dengan cara ini Allah berkehendak memudahkan keluarga kami, mengingat gaji bapak dan ibu sebagai guru tidak terlalu besar dan memiliki tanggungan tiga orang anak.
Sekarang universitas yang selalu saya banggakan ini berkehendak untuk menaikkan biaya pendidikan hingga 80% dari semula. Awalnya, saya tidak ikut ambil pusing, “ yang penting (SPP) saya gak ikutan naik,” gumam saya dalam hati. Hingga suatu ketika saya melihat sebuah tulisan yang memuat ucapan salah seorang pejabat Unair: “ Kalau tidak bisa bayar SP3 ya tidak apa-apa, tidak usah kuliah di Unair.”

Kepada beliau yang berkata demikian, saya ingin bertanya:

Wahai Bapak/Ibu Pejabat, Mengapakah jika kami tak punya segepok uang di kantong, kami tidak boleh kuliah disini? Apakah kuliah di kampus ternama hanya hak mereka yang berduit? Apakah ilmu hanya boleh dipelajari oleh orang yang punya uang?
Wahai Bapak/Ibu Pejabat yang tega berucap seperti itu, sadarkah Anda telah sukses melukai hati orang-orang kecil yang berharap dapat memutus rantai kemiskinan anak-turunnya lewat pendidikan?
Mungkin bagi Anda uang sepuluh atau lima belas juta bukanlah jumlah yang besar, namun bagi bapak-bapak kami yang hanya pegawai kecil, itu senilai dengan gajinya berbulan-bulan.
Wahai Bapak/Ibu Pejabat, kapankah kiranya bangsa ini maju bila pendidikan dikomersilkan?
Wahai Bapak/Ibu Pejabat, Apakah jaminannya bahwa uang yang membuat kantong-kantong bapak kami kempes itu akan kembali kepada kami dalam bentuk fasilitas yang lebih baik dan dikelola dengan kejujuran?
Wahai Bapak/Ibu Pejabat, dengan uang sedemikian besar yang kami setorkan, apakah kami akan keluar dari kampus ini menjadi seseorang yang lebih baik? Atau akhirnya kami malah melupakan tujuan utama kami belajar di sini dan sibuk mengejar balik modal yang kami setorkan di awal?
Wahai Bapak/Ibu Pejabat, janganlah pertanyaan ini ditanggapi dengan panas hati. Bukankah guru-guru kami disini mendidik kami untuk menjadi seseorang yang kritis?


Tidak ada sedikitpun maksud dalam diri saya untuk melecehkan kampus ini, segala yang saya tuliskan di atas adalah sebentuk rasa bangga yang ingin saya pertahankan kepada almamater tercinta, Universitas Airlangga. (rad)

Rabu, 26 Januari 2011

Reaching You...


kalo kita ikutan forum, biasanya ada larangan "nge-junk" kan? biasanya buat komen-komen yang cuman sebaris alias oneliner. nah, karena saya lagi pengen banget menulis sesuatu yang tidak penting, maka akan saya lakukan di blog saya sendiri *walopun kagak ada yang baca*

kali ini saya ingin mengoceh tentang seri anime yang baru saja saya tamatin (season 1 nya) judulnya "kimi ni todoke". dalam bahasa inggris "kimi ni todoke" berarti Reaching You. udah bisa menebak anime aliran apakah ini? yap, anime ini bergenre "shoujo", romantis gitu deh..
apa yang membedakannya dengan anime sejenis?
Hmm.. sebenarnya saya bukan penggemar shoujo, tapi pas liat anime ini rasanya saya langsung tertarik karena karakter2nya kuat.
Lakon ceweknya bernama Kuronuma Sawako. Rambut hitam lurus panjang plus aura suram mengingatkan kita pada sesuatu... it's Sadako! karakter setan di film horror "The Ring", dalam seri ini Sawako memang punya nickname Sadako.
Si lakon cowok adalah "totally opposite" dari karakter Sawako. pembawaannya yang ramah dan supel membuatnya selalu dikelilingi baik oleh cowok maupun cewek (pastinya...). Namanya adalah Kazehaya Shouta.

Episode awal menceritakan bagaimana Sawako berusaha menjalin persahabatan karena ia selalu dijauhi akibat aura suram yang dibawanya, Episode tengah sampai akhir tentu Anda bisa menebak apa inti ceritanya.

Yang saya suka dari seri ini:
- hmm.. gara2 sifat Sawako yang optimistik, saya jadi semangat ! >_<
- Teman2 yang ada di sekelilingmu itu sangat berharga... jaga perasaan mereka baik-baik.
- Do Your Best!

Dibawah ini saya cantumkan opening song "kimi ni todoke"

Jumat, 14 Januari 2011

Ingin berkata: Rakyat Bersamamu

“Risma, jangan menyerah!! Rakyat bersamamu”

Sepenggal kalimat itu entah bagaimana berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. Kalimat itu tertulis di selembar kertas yang diangkat seorang pendemo jalan tol tengah kota Surabaya di depan DPRD Surabaya. Bu Risma adalah walikota Surabaya yang bersama masyarakat menolak pembangunan jalan tol tersebut, pasalnya pembangunan ini akan menggusur pemukiman warga dan menyebabkan kemacetan yang lebih parah.

Saya sendiri tidak begitu paham mengapa saya tersentuh ketika melihat hal tersebut. Mungkin karena saya sudah terlalu sering melihat ke-tidakpercaya-an masyarakat terhadap pemerintah yang mereka pilih dengan tangannya sendiri. Mungkin juga karena saya kecewa lantaran walikota kami, walikota Malang yang tercinta,seakan tutup mata dan tutup telinga terhadap jeritan pedagang Pasar Dinoyo yang terancam dipindah paksa atau bahkan kehilangan mata pencaharian gara-gara pasar tersebut akan digantikan tempat belanja modern alias mall.

”Saya juga ingin berkata: Jangan menyerah pemimpinku! Kami, rakyat kecil yang lemah ini bersamamu!!” kata saya dalam hati. Tapi saya berpikir lagi, pemimpin mana yang pantas saya teriakin begitu. Apalagi sekarang, ketika orang-orang penting negeri ini tampak seperti bersekongkol dengan para mafia. Tengok saja kasus Gayus yang dengan santainya melanggang keluar tahanan, liburan dan foto-foto di luar negeri.

Sebenarnya saya tidak ingin mengakui, tapi puisi Taufiq Ismail, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, masih relevan.

Rabu, 05 Januari 2011

Belum Ingin Berhenti


Kakiku lelah dan tertatih melangkah,
Terik matahari habis membakar tubuhku,
Kerongkonganku kering...
Aku hampir runtuh.
Aku hampir runtuh.
Aku hampir runtuh.

Pandanganku kabur,
Bersimbah peluh.
Tampak olehku di depan sana,
Jalanku masih panjang,
Panjang sekali
Hingga tak dapat
Kugapai ujungnya.

Sepi di depan...
Aku sendirian.
Tapi,
Aku tak boleh runtuh
Aku tak boleh runtuh
Aku tak boleh runtuh
Tidak saat ini!

Jika boleh memilih,
Tentu aku ingin berhenti.
Aku tak mampu
Berjalan disini.

Mengapa bukan dirimu?
Kaki-kakimu lebih kokoh
Pundak-pundakmu lebih kekar
Mengapa bukan dirimu
Yang berada disini?

Karena engkau tak mau,
Aku juga tak mau.
Tapi
Aku lebih tak sanggup
Melihat perjalanan kita

Terhenti.

Senin, 03 Januari 2011

Postingan Pertama di 2011


Selamat Tinggal 2010, Selamat Datang 2011!!!
(lha terus kenapa??!!)


Apa yang anda lakukan ketika malam tahun baru empat hari yang lalu? Jalan-jalan keliling kota nonton kembang api sambil makan jagung bakar mungkin? Momen tahun baru memang sudah berlalu, tapi saya masih tidak habis pikir, mengapa ya tahun baru mesti dirayakan meriah begitu?
menurut saya pribadi sih, pergantian tahun bukanlah sesuatu yang istimewa. toh tak beda juga dengan pergantian hari, pergantian jam, bahkan pergantian detik-demi-detik. satu hal yang mutlak membuat semua pergantian itu sama: KITA MAKIN TUA!
Kalo saya inget-inget hal ini, saya jadi kehilangan nafsu untuk merayakan pergantian tahun hehehe.
Semoga dengan bertambahnya usia kita, kita makin dewasa dalam menyikapi cobaan dalam hidup plus makin serius mempersiapkan diri. Inget umur, mbah!
(benar-benar postingan yang tidak penting)

Jumat, 26 November 2010

Ayahku Pahlawan Sederhana

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.

Kalimat ini tersurat di bagian pendahuluan buku karya Anis Matta yang berjudul Mencari Pahlawan Indonesia. Memang selama ini terlanjur tertanam dalam benak kita, image pahlawan bagaikan superhero di film-film. Punya kekuatan luar biasa dibanding orang-orang biasa dan ketika tugasnya berakhir, orang-orang hanya akan terpana menyaksikannya pergi. Bukanlah seperti itu pahlawan-pahlawan yang dibutuhkan bangsa ini. Pahlawan-pahlawan Indonesia sejati mungkin tak pernah tercatat namanya dalam sejarah, tak dikenal orang. Namun setiap pekerjaan besar yang mereka lakukan senantiasa terlukis dengan tinta emas peradaban. Sebaliknya yang seringkali kita kenal adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan kecil dan beromongbesar dalam autobiografi yang mereka tulis sendiri.

Pahlawan-pahlawan besar mungkin ada di sekitar kita meski kita tak pernah menyadarinya. Bagi saya pribadi, sosok Ayah adalah seorang pahlawan besar dalam hidup saya. Terlepas dari segala kekurangannya, beliau adalah seseorang yang harus saya teladani. Mulanya, beliau hanyalah seorang anak desa yang bercita-cita menempuh pendidikan tinggi. Meski awalnya niat Ayah ditentang oleh kakek, ayah tetap bersikukuh. Belakangan ayah menyadari bahwa kakek sebenarnya sedang menguji niat ayah, dan beliau lulus. Akhirnya, ayah berhasil merantau seorang diri ke kota Malang dan menyelesaikan pendidikan sarjananya serta diangkat menjadi seorang guru sekolah dasar. Dalam menjalankan profesinya, ayah adalah seorang pekerja keras dan berdedikasi. Seringkali pada hari liburpun ayah tetap pergi ke sekolah untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Ayah memang bukan seorang guru agama, namun beliau senantiasa mengingatkan siswa-siswinya untuk menjalankan perintah Allah.

Seorang pahlawan pasti memiliki naluri kepahlawanan. Sebuah naluri untuk maju dan menghadapi tantangan di depan. Pahlawan tidak akan merasa senang berdiam diri di ruang yang nyaman, karena hal itu tak dapat membuat mereka maju. Pahlawan tak mencari ganti materi, karena ganti dari Allah adalah janji yang lebih baik dan tak akan diingkari. Gaji seorang guru jelas tak dapat dibandingkan dengan tanggungjawabnya mendidik anak-anak bangsa yang kelak akan jadi pemimpin negeri ini. Yang membuat perjuangan ayah tak berhenti hanyalah harapan agar murid-muridnya bisa lebih baik dan lebih maju dibandingkan dengan dirinya.

Ayahku yang sederhana, namanya jelas tak dikenal dalam sejarah negeri ini. Namun bagiku, beliau adalah satu dari banyak pahlawan Indonesia. Orang kecil yang melakukan pekerjaan besar. (rad)

Jumat, 12 November 2010

Totto-Chan dan Anak-Anak Indonesia


Akhirnya... Setelah bosan dengan segunung diktat kuliah selama ujian bisa kembali lagi membaca buku-buku "normal". Yap, kali ini saya ingin bercerita tentang sebuah buku klasik yang sangat menginspirasi. mungkin sebagian dari teman-teman telah kenal gadis cilik bernama Totto-chan.



Totto-chan yang ceria sering dianggap sebagai anak nakal di sekolah dasar Jepang yang konservatif. Guru kelasnya sering menghukum dia gara-gara kenakalannya. Dia dikeluarkan dari sekolah ketika duduk di kelas 1 SD. ibu Totto-chan yang bijaksana kemudian memindahkan Totto-chan ke sebuah sekolah unik bernama Tomoe Gakuen. Kelas-kelas di Tomoe adalah gerbong-gerbong kereta api. Tidak ada jadwal pelajaran karena semua murid berhak memilih apa yang ingin mereka pelajari, semua murid aktif bertanya dan berkonsultasi dengan guru jika ada yang tidak mereka pahami. Dan yang paling seru, tentu saja adalah Pelajaran JALAN-JALAN! Setelah pagi hari para murid belajar banyak hal di ruang kelas, sore hari para guru akan mengajak berjalan-jalan di sekitar sekolah. dalam perjalanan mereka mengamati patung di Kuil, proses penyerbukan pada tanaman sawi, dan banyak hal lain. tanpa sadar mereka telah belajar Biologi, sejarah, dan pelajaran lain. Orang di balik pendobrakan sistem pendidikan konvensional ini adalah kepala sekolah Tomoe, Sosaku Kobayashi. Kisah masa kecil Tetsuko Kuroyonagi ini memang ditulis secara khusus untuk mengenang beliau, pria optimis dan ramah yang sangat mencintai anak-anak.



Kisah-kisah Totto-Chan kecil bertutur dari sudut pandang anak-anak yang ceria dan penuh rasa ingin tahu. Saya sendiri sangat terbawa pada alur cerita pendeknya yang sederhana namun begitu dalam (beberapa kali saya mengalami kebocoran kelenjar air mata =). Yang lebih membuat saya kagum adalah: buku ini ditulis tahun 1981! dan sekolah Tomoe didirikan pada jaman perang dunia kedua tahun 1937. 73 tahun yang lalu sudah ada orang Jepang yang berpikir tentang pendidikan terbaik untuk anak-anak, ironisnya saat ini banyak anak-anak Indonesia tidak belajar dengan keceriaan. Pada usia dimana mereka seharusnya diberi pemahaman tentang agama, lingkungan sekitar, cara bersosialisasi, membangun kepercayaan diri dan rasa ingin tahu serta pengetahuan-pengetahuan dasar dalam kehidupan justru dijejali dengan setumpuk lembar kerja siswa (LKS) yang --menurut saya-- sebenarnya tidak terlalu esensial. Mereka dipaksa belajar tanpa mereka tahu apa manfaatnya. Lebih buruk lagi, ada juga orangtua yang memaksa anak-anaknya belajar agar meraih peringkat kelas. Menurut saya, ini pembunuhan karakter anak-anak.(saya kelak tak jadi orangtua yang seperti itu =) *kok jadi curhat*



Pendek kata, kalau disuruh memberi skor untuk buku ini, saya beri 4 dari 5 poin.

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela

Tetsuko Kuroyanagi

Jumat, 22 Oktober 2010

Keong Racun yang Beracun


Kemarin malam selepas isya' saya jalan-jalan ke Bazar bersama kawan kos saya, Huzn. memang di daerah tempat tinggal kami ini sering sekali ada bazar keliling yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari mulai pakaian, perabot plastik, aneka makanan dan jajanan, sampai aneka sepatu yang lucu-lucu. Pikir saya: Lumayan lah buat "buang stress" setelah 5 hari didera pekerjaan kuliah yang gak habis-habis.

Belum juga semua kios saya jelajahi, saya sudah dibikin heran setengah mati. Bukan sesuatu yang luar biasa sebenarnya, bahkan saya jadi agak bertanya-tanya karena fenomena ini justru ditanggapi dingin oleh masyarakat. Yang saya maksud adalah fenomena KEONG RACUN!!! Anda tentu sudah hafal di luar kepala lirik lagu dangdut yang fenomenal ini. Anda tentu juga sudah tahu kalau lagu seperti ini tidak seharusnya didengar oleh anak-anak. Seandainya ada orang memutar lagu ini di warung-warung kopi tentu saya tak akan heboh, tapi yang saya lihat justru sebaliknya. Lagu ini diputar disebuah stan mainan anak, bukan hanya sekali tetapi diulang terus menerus.

Astaghfirullah, saya yang belum punya anak saja merasa kasihan dengan anak-anak yang bermain di tempat tersebut. Miris rasanya, lagu-lagu amoral seperti itu terus menghinggapi telinga anak-anak bangsa ini. Sungguh, keong racun benar-benar beracun. (rad)

Minggu, 17 Oktober 2010

Ketika Hidup Tak Hanya Tidur




“Wahai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al Muddatsir [74]: 1-6)


Sepanjang hidup, rata-rata seorang manusia menghabiskan 25-30% waktunya untuk tidur. Jika seseorang yang berusia 60 tahun setiap hari tidur selama 8 jam, maka 20 tahun dari hidupnya hanya diisi dengan tidur! Tidur efektif dapat membuat tubuh dan pikiran kembali segar ketika kembali terbangun. Sebaliknya, tidur berlebihan justru akan membuat kita merasa lemas dan malas saat bangun. Meskipun sangat penting, fungsi tidur sebenarnya belum diketahui pasti secara fisiologis. Sebuah hipotesis menyatakan bahwa proses tidur memfasilitasi perubahan kimia dan struktural yang terjadi pada otak selama proses belajar, dan mengingat (Vander et al., 2001).
Ketika seseorang yang normal merasa rileks dan menutup mata, maka perlahan-lahan ia akan mulai merasa mengantuk, pertanda bahwa ia mulai memasuki Sleep Stage A. Selanjutnya orang ini akan memasuki tidur yang semakin dalam yaitu Sleep Phase B dan Sleep Phase C, hingga pada puncaknya ia akan mencapai fase deep sleep. Fase deep sleep pertama dicapai sekitar satu jam setelah seseorang jatuh tertidur. Perlahan-lahan pula, tidur menjadi semakin kurang dalam dan mulai terjadi fase tidur Rapid Eye Movement (REM). Inilah satu siklus tidur yang berlangsung kurang lebih 90-100 menit. Siklus ini berulang sekitar 4-5 kali sepanjang tidur. Siklus tidur pertama hingga ketiga sangat esensial (Despopoulos, 2001). Maka bisa dikatakan bahwa proses tidur efektif sebenarnya cukup 3 X 90-100 menit atau sekitar 4-5 jam.
Mari kita coba membuat sebuah perbandingan sederhana. Di awal tulisan ini telah diceritakan tentang seseorang yang tidur 8 jam sehari maka 20 tahun hidupnya hanya digunakan untuk tidur. Seandainya ada seseorang yang juga berusia 60 tahun tetapi ia hanya tidur 5 jam sehari, maka ia memiliki tambahan waktu dibanding orang yang tidur 8 jam sebesar (3/24) X 60 tahun =7,5 tahun. Perbedaan yang fantastis bukan? Dengan tambahan waktu 7,5 tahun artinya kita bisa belajar 7,5 tahun lebih banyak, kesempatan berkarya 7,5 tahun lebih lama, kesempatan beribadah 7,5 tahun lebih baik, dan kesempatan-kesempatan berbuat kebaikan lain 7,5 tahun lebih dari orang lain yang tidur. Prof. Habibie, salah satu ilmuwan terkemuka Indonesia bahkan hanya tidur 4 jam sehari! Silahkan Anda hitung sendiri perbedaannya. Bagaimana dengan kita? Akankah waktu kita habis untuk tidur sedang waktu kita di dunia tidaklah lama? (rad)

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah [32]:15-16)


Saya tulis postingan ini supaya saya lebih dan lebih semangat untuk bangun. Ganbatte ne!!!

Selasa, 10 Agustus 2010

Terselip di Tengah Gemerlap Zaman

Kemarin malam, aku dan adikku jalan-jalan keliling perumahan. Awalnya kami hanya berniat melepas penat, akhirnya daripada berputar-putar tanpa tujuan kami putuskan makan siomay. Demi sepiring siomay lezat, kami pergi ke Ruko Sawojajar, yaitu sebuah komplek pertokoan yang paling ramai di kawasan perumahan Sawojajar. Sepiring siomay pun tandas kami makan berdua. Memang rasa siomay yang dijual disini selalu membuatku kangen kapanpun dan dimanapun berada.

Setelah kenyang, kami jalan-jalan lagi di sekitar ruko sawojajar. Konsep Ruko alias rumah toko dimana lantai bawah digunakan untuk berjualan dan lantai atas untuk tempat tinggal pemiliknya sempat sangat populer beberapa tahun lalu, namun saat ini pamornya mulai surut, digantikan supermarket dan hipermarket—mungkin nanti bakal ada juga ultramarket—yang mewah dan menjual segala keperluan, mulai dari sandal jepit hingga makanan untuk hewan kesayangan, mulai dari alat tulis hingga alat pertukangan. Bahkan, siomay juga dijual di market-market super besar itu. Suatu saat nanti, aku mungkin tak bisa lagi melahap siomay supermantap di pinggir jalan, karena pedagangnya kena gusur pembangunan mall.

Kalau sudah demikian, tinggal tunggu giliran saja para pedagang pasar tergusur pusat perbelanjaan canggih yang akan dibangun setinggi enam lantai (ini kisah nyata: para pedagang di Pasar Dinoyo akan digusur ke daerah Mulyorejo karena tempat itu mau dibikin mall enam lantai). Pedagang bakso dan nasi goreng keliling digantikan foodcourt yang rasanya tidak seberapa tapi harganya selangit dan kena pajak pula. Ah, memang rasanya semakin “maju” zaman, artinya adalah keuntungan dan kekayaan akan makin bertumpuk di tangan para milyuner (dan triliuner), sementara kita harus cukup puas menjadi sapi perah mereka. Dan pedagang-pedagang yang berdedikasi, karena mulai bekerja sejak subuh buta harus siap terselip di tengah gemerlap zaman itu. (rad)

Selasa, 15 Juni 2010

Makhluk yang Berjuang (2-end)

Akhirnya, setelah sekian lama didera kesibukan kuliah yang menjadi-jadi, baru bisa nulis posting lagi. Lanjutan dari tulisan saya beberapa waktu yang lampau.

"Orang-orang yang tegar bukanlah mereka yang tak pernah menitikkan airmata ketika didera kesedihan. Tetapi mereka adalah orang-orang yang bangkit dengan kepala tegak dan berkata: pasti ada kebaikan dari setiap kemalangan"

Inspirasi ini datang dari seorang gadis Jepang yang akhirnya meninggal karena penyakit Spinocerebellar ataxia (SCA), ia bernama Aya Kito. Penyakit ini membuat penderitanya mengalami kemunduran kemampuan motorik dalam waktu yang tidak terduga disebabkan rusaknya sel-sel otak kecil. Aya masih berusia 14 tahun ketika divonis dokter menderita penyakit mematikan ini. Ketika masih sehat Aya adalah seorang siswi yang cerdas dan periang, tiba-tiba saja ia menjadi sangat lamban dan tidak seimbang dalam bergerak, mudah terjatuh tanpa sebab. Teman-teman sekolahnya merasa kasihan dan banyak membantu, namun Aya yang sebelumnya sehat dan normal, depresi karena merasa cacat dan tak berguna.

Seiring bertambah parahnya penyakit yang diderita Aya, semangat hidup Aya tak pernah pudar. Perasaan itu dicurahkannya dalam lembar-lembar catatan harian. Ia menuliskan: "Aku bersumpah tak akan kalah oleh penyakit ini. Musim boleh berubah, namun manusia harus tetap hidup."

Kunci semangat hidup Aya adalah ucapan dokter Hiroko yang merawatnya:"Daripada menyesali apa yang telah hilang, lebih baik mensyukuri apa yang masih tersisa."

Pada usia 20 tahun-6 tahun sejak menderita penyakit ini-Aya mulai kesulitan berbicara dan tak lagi bisa menulis catatan harian. Akhirnya, Pada tahun 1988 (saat itu usia Aya 25 tahun), Aya Kito meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Namun semangatnya untuk berjuang dan tetap hidup serta harapannya untuk bisa memberikan sumbangsih bagi masyarakat akan tetap abadi. (rad)

Senin, 29 Maret 2010

Berlari Menuju-Mu

“Rek, aku duluan ya!” Teriakku pada teman-teman yang masih ada di Laboratorium.
Dari lantai tiga sayap timur gedung fakultasku, aku berlari sekencang-kencangnya.
Aku ingin segera mendengar mutiara ilmu,
Tentang bagaimana meraih cinta-Mu.

Dengan terengah-engah, aku melepas sepatu.
Kulepas pandang ke depan,
Seketika lututku lunglai...
Di serambi Nuruzzaman aku terpaku...
Kajian sudah berakhir,
Pak Ustadz pemateri baru saja keluar dari pintu utama.

Aku menyalahkan diriku sendiri,
Andai praktikum tadi segera kuselesaikan...
Andai sore ini tidak ada jadwal praktikum..
Aku kecewa.

Di bawah langit sore ini,
Aku hanya ingin berlari menuju-Mu...
Tapi sungguh aku percaya,
Jika aku mendekat dengan berlari,
Engkau akan mendekat lebih dari itu.


(Surabaya, 27 Maret 2010)

Senin, 22 Maret 2010

Allah Cinta Kita




seringkali ketika ditimpa kesulitan, kita merasa seolah-olah menjadi manusia paling merana di muka bumi. Seringkali pula kita merasa iri dengan orang lain, bahkan hingga berkata,"Ya Allah, apa dosaku hingga harus aku yang mengalami semua ini?". kesulitan membuat kita terhimpit dalam ke-putusasa-an.
Sebenarnya, hanya dengan sedikit mengubah sudut pandang, kita akan melihat bahwa kesulitan-kesulitan yang kita hadapi adalah bukti bahwa Allah masih sayang kepada kita. Kesulitan ibarat latihan memanjat dinding. Mula-mula kita berada di titik terendah, kemudian kita terus berusaha untuk memanjat dan memanjat lebih tinggi lagi. Kesulitan adalah cara Allah menjadikan kita pribadi yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya.
Mari kita sejenak mengingat berbagai kesulitan yang telah kita hadapi. kepada siapakah saat itu kita mengadu? Ingatkah bahwa ketika itu kita merasa begitu dekat denganNya? Bandingkan ketika kita tidak sedang ditimpa kesulitan, kita tertawa-tawa bahagia hingga terkadang lalai padaNya. Maka boleh jadi, Allah memberikan kita kesulitan karena Dia rindu kepada kita. Karena kita mendekat kepadaNya hanya saat dirundung duka.
Rasulullah bersabda:"Ingatlah Allah di saat lapangmu, Niscaya Allah akan mengingatmu di saat sempitmu."
Sungguh, Allah mencintai kita dengan berbagai cara. bisa jadi itu berupa nikmat untuk kita syukuri, atau kesulitan untuk kita hadapi. Tinggal apakah kita menyadari tanda cinta tersebut. (rad)

Kamis, 11 Maret 2010

Makhluk yang Berjuang (1)

Sering kudengar orang berkata bahwa ,"hidup adalah perjuangan". awalnya itu hanya kuanggap omongan lalu saja. Tidak mampir di otak apalagi di hati. maka saat itu hatiku mungkin ibarat sebongkah batu. terus dipapar dengan ucapan penggugah semangat tetapi tetap saja kaku.
aku tahu, aku memang tak tahu apa-apa. aku tahu, aku orang yang beruntung, hidup sehat dan cukup, baik secara material maupun imaterial. kasih sayang orangtua deras mengalir seperti air sungai dibagian hulu.
maka dalam tiap langkah kehidupan yang kujalani selalu ada perjumpaan-perjumpaan yang bahkan dapat melunakkan hati sekeras batu.

ini adalah secuil pertemuan yang akan selalu kukenang sepanjang hidupku. Ketika pertamakali melihatnya, aku jatuh iba. Dunia ini gelap baginya. tetapi apa yang kulihat di wajahnya? selalu ada secercah senyuman di sana. ada kebahagiaan ketika ia mendengarku menyapanya. Dengan penuh semangat ia menunjukkan padaku bagaimana caranya menulis huruf braille. Bagaimana bisa kutahan air mataku?

maka lewat sorot matanya yang tak lagi bercahaya, pertama kali aku percaya,"Hidup adalah perjuangan."

Bersambung...

Sabtu, 06 Maret 2010

mencari arti



Namaku berarti matahari,
Begitulah yang dikatakan oleh ibu…
Konon, nama itu diberikan
Dengan harapan
Kelak ku kan jadi matahari
Setidaknya buat diri dan keluargaku.

Hingga kini,
Aku hidup dengan impian itu.
Menjadi matahari…
Menjadi cahaya,
Menjadi kehangatan,
Menjadi energi.

Aku selalu percaya,
Bahwa manusia manapun
Bukan diciptakan Tuhan
tanpa tujuan.
Selalu ada peran baginya
Di atas panggung kehidupan.
Tinggal bagaimana dia mencari,
Dan melakoni peran itu.
Itulah yang sedang kulakukan.

Agar aku bisa menjadi
Seperti namaku,
MATAHARI

-Malang, 6 Maret 2010-

Senin, 22 Februari 2010

Malang Malam Kala Hujan

Malang malam kala hujan
adalah kepulan uap mi ayam dan bakso,
menghangatkan saat dingin menusuk tulang,
menenangkan pencernaan yang bergoncang,
menyajikan kelezatan dari koki kelas dunia.

Malang Malam kala Hujan
adalah ironi bagi anak-anak bertelanjang kaki,
mimpi bagi penjaja koran di persimpangan



Malang, 31 Januari 2010.